Skip to content

Proses Bisnis Indomaret dan analisanya dalam Porter’s 5 force dan 3 generic strategy

Tugas GSLC 06 PBY (REVISI)

Elvira Denisya (1401112172)

Albert Dillon(1401113452)

Analisis Porter’s 5 Force dalam Bisnis indomaret

Menurut Five Forces Model ada lima hal yang dapat menentukan tingkat persaingan dan daya tarik pasar dalam suatu industri. Daya tarik dalam konteks ini mengacu pada profitabilitas industri secara keseluruhan. Hasilnya, setelah analisis dilakukan maka akan dapat di nilai apakah industri tersebut masih “menarik” atau “tidak menarik”.

Menurut Five Forces Model, sebuah industri disebut “tidak menarik” bila kombinasi dari five forces menurunkan profitabilitas secara keseluruhan. Sebuah industri disebut menarik bila kombinasinya menunjukkan profitabilitas yang menjanjikan. Tiga dari lima Five Forces merujuk pada persaingan dari sumber eksternal. Sisanya adalah ancaman internal. Berikut ini adalah 5 analisis porter dalam bisnis waralaba, Indomaret.

1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis

Persaingan dalam industri ini masih terus berkembang sampai saat ini dan persaingan  tersebut  cukup  ketat.  Hal  ini  terlihat  dengan  munculnya  minimarket waralaba dan non-waralaba mandiri baru yang merupakan kategori pengecer dan semakin  bertambahnya  pendirian  cabang-cabang  gerai  baru  oleh  perusahaan  ritel.

Tingkat pertumbuhan dalam bisnis ini sangat tinggi, diliat dari keberadaannya hampir di semua tempat dengan jarak yang berdekatan. Contohnya saja Alfamart, Alfamidi yang berlokasi tidak jauh dari Indomaret tersebut dan juga ditambah adanya pesaing baru seperti Lawson yang menyaingi Indomaret plus.

2. Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru

Bagi kebanyakan industri, intesitas persaingan kompetitif adalah penentu utama daya saing industri. Hambatan masuk  Hambatan masuk yang rendah akan mengakibatkan suatu industri mengalami penurunan profitabilitas dengan cepat karena semakin meningkatnya persaingan di antara perusahaan dalam satu industri. Sebaliknya dalam Five Forces Model hambatan masuk industri yang tinggi, diasumsikan akan dapat mempertahankan daya tarik industri untuk jangka waktu yang panjang. Sebagai contoh, identitas merek (brand identity) yang kuat seperti yang dimiliki Seven Eleven telah turut melindungi produk-produk tersebut dari serangan pesaing baru sehingga produk tersebut masih dapat mempertahankan posisinya di pasar sebagai salah satu waralaba ternama di dunia.

3. Pengembangan Produk Substitusi

Keberadaan produk diluar bidang batas produk umum meningkatkan kecenderungan pelanggan untuk beralih ke alternatif. Untuk Indomaret, pasar tradisional adalah salah satu produk substitusi karena disana terdapat menjual bahan makanan yang lebih lengkap, yang mungkin saja tidak ada disediakan di Indomaret.

4. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli / Konsumen

Daya tawar konsumen juga digambarkan sebagai pasar output. kemampuan pelanggan untuk menenmpatkan perusahaan dibawah tekanan, juga akan mempengaruhi pelanggan kepekaan terhadap perubahan harga. pembeli memiliki posisi penting terhadap keberlangsungan hidup perusahaan karena sales revenue yang diperoleh perusahaan berasal dari penjualan produk perusahaan kepada buyer. Kekuatan posisi tawar menawar pembeli lebih kuat dibandingkan perusahaan ritelnya. Hal ini disebabkan perusahaan menjual produk kebutuhan sehari-hari dengan konsumennya  adalah  konsumen akhir.  Konsumen yang  membeli  produk  kebutuhan sehari-hari  pada  saat  ini  peka  terhadap  harga  dikarenakan  keadaan  perekonomian negara yang masih belum stabil. Jadi, perusahaan harus menetapkan harga yang tepat dan memberikan pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Kekuatan yang dimiliki pembeli mampu memaksa harga turun, peningkatan pelayan dan kualitas, dalam hal menetapkan harga pada Indomaret ini tidak secara langsung menentukan harga, harga sepenuhnya ditentukan oleh franchisor-nya Indomaret dan harga yang ditawarkan merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar yang sifatnya tetap dan tidak bisa diubah.

5. Kekuatan Tawar-Menawar Penjual / Pemasok

Digambarkan sebagai pasar input. pemasok bahan baku, komponen, tenaga kerja dan jasa kepada perusahaan dapat menjadi sumber kekuatan, ketika ada beberapa pengganti. Apabila perusahaan dapat memperoleh pasokan bahan baku dari beberapa pemasok maka kedudukan perusahaan relatif lebih kuat dibandingkan pemasok sehingga pemasok tidak akan memberikan ancaman berarti bagi perusahaan. Untuk indomaret terdapat banyak jumlah pemasok sehingga tidak akan menjadi persaingan dan ancaman bagi perusahaan.

Porter Generic Strategi

Menurut Porter, jika perusahaan ingin meningkatkan usahanya dalam persaingan yang semakin ketat, perusahaan harus memilih prinsip berbisnis, yaitu produk dengan harga tinggi atau produk dengan biaya rendah, bukan kedua-duanya. Berdasarkan prinsip ini, Porter menyatakan terdapat tiga strategi generik yaitu Strategi Diferensiasi (Differentiation), Kepemimpinan Biaya Menyeluruh (Overall Cost Leadership) dan Fokus (Focus).

1. Strategi Differensiasi

Merupakan suatu keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya. Contoh dalam hal ini Indomaret mengadakan perlombaan berhadiah untuk para konsumen, membuka gerai makanan instant jepang, dan juga mengadakan beberapa promosi lainnya yang tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya untuk menarik minat konsumen sebanyak mungkin dan agar perusahaan menjadi beda dari yang lainnya dan memiliki keunikan tersendiri.

2. Strategi Overall Cost Leadership

Dengan strategi ini Indomaret memperhitungkan pesaing daripada pelanggan dengan cara memfokuskan harga jual produk yang murah, sehingga biaya produksi, promosi maupun riset dapat ditekan, bila perlu produk yang dihasilkan hanya sekedar meniru produk dari perusahaan lain. Contohnya dalam persaingan produk sejenis seperti susu dll yang ditekan serendah mungkin agar lebih murah harganya dari pesaingnya sehingga menarik konsumen untuk membeli.

3. Strategi Fokus (focus)

Dalam hal ini Indomaret mengkonsentrasikan pada pangsa pasar yang kecil untuk menghindar dari pesaing dengan menggunakan strategi Kepemimpinan Biaya Menyeluruh atau Diferensiasi. Untuk itu indomaret membuat segmentasi pasar yang lebih menyempit seperti dengan diadakannya Indomaret Point yang lebih fokus kepada pangsa kaum muda dengan menyediakan fasilitas yang lebih lengkap untuk tempat hang out, menyediakan makanan cepat saji, dll yang dimana dalam hal ini kebanyakan peminatnya adalah kaum anak muda.

Tugas GSLC Business Driven Technology Use Case Bagian Penjualan

Elvira Denisya

06 BY

1401112172

Deskripsi Bagian Penjualan:

Customer datang ke toko, lalu memilih barang yang diinginkan atau dengan melihat kategori barang yang ada. Setelah itu, customer memberikan barang tersebut kepada bagian kasir, lalu kasir akan melakukan perhitungan dan kalkulasi jumlah barang yang dibeli. Setelah itu bagian kasir akan membuat struk (invoice) berisi transaksi yang dilakukan customer dan customer membayar sejumlah uang sesuai dengan transaksi yang ada.

Class Diagram Bagian Penjualan:

1

Penjelasan class diagram:

1. Antara class barang dengan class Kategori barang, memiliki hubungan 1..1 karena didalam class barang memiliki 1 class kategori barang, dan sebaliknya, di class barang hubungannya dengan class barang yaitu 1..* yang artinya didalam setiap kategori barang memiliki 1 atau lebih barang didalamnya.

2. Hubungan antara class Barang dengan class Customer. Didalam class barang hubungannya adalah 1..1 terhadap class Customer, karena didalam sebuah barang pasti memiliki 1 customer. Dan sebaliknya, hubungan antara class customer dengan class barang yaitu 1..* artinya didalam 1 customer pasti memiliki 1 atau banyak barang.

3. Hubungan antara class Barang dan Class Detil Barang. Didalam 1 barang memiliki 1 a detil barang, dan sebaliknya didalam detil barang memiliki 1 atau lebih barang didalamnya.

4. Hubungan antara class Customer dengan class Penjualan. Didalam 1 customer terdapat 1..* (satu atau lebih) barang, dan sebaliknya didalam class Penjualan pasti dimiliki 1..* (satu atau lebih) customer.

5. Hubungan anatara class Customer dengan class Detil Penjualan. Didalam customer pasti terdapat 1 detil penjualan,dan dari class Detil Penjualan pasti dimiliki oleh 1 customer.

6. Hubungan antata class Penjualan dengan class Invoice. Didalam penjualan terdapat 1 invoice, dan sebaliknya didalam class invoice pun memiliki 1 penjualan.

Tugas GSLC ANAPERBIS (BPR KEY ISSUES AROUND BPR AND THE EVOLUTION OF BPR FOR e-BUSINESS)

BPR (Business Process Reengineering)

Merupakan analisis dan desian ulang dari perusahaan. Business Process Reengineering ( BPR ) juga di kenal sebagai proses inovasi dan rekayasa ulang proses utama bisnis. Selain itu BPR terkadang di definisikan dengan nama-nama yang lain seperti : inovasi proses, rekayasa proses utama, analisa proses kerja dan peningkatan proses. Di dalamnya terjadi perubahan radikal proses bisnis untuk mendapatkan hasil kinerja dan pengurangan biaya. Dalam BPR meliputi proses-proses manajemen lainnya seperti: restrukturisasi, reorganisasi, delayering, TQM, perataan organisasi, downsizing, righsizing, peningkatan bisnis dan business enhancement.

Peran IT dalam implementasi BPR
Peran IT dalam implementasi BPR  adalah untuk menyusun rencana kerja yang berkelanjutan. BPR sendiri harus melakukan radikal ulang dan reorganisasi dari suatu perusahaan untuk menurunkan biaya dan menngkatkan kualitas layanan, dan dengan TI sebagai kunci untuk enabler perubahan yang radikal tersebut.

Pengertian E-Business
E-business adalah E-business (Inggris: Electronic Business, atau “E-business”) dapat diterjemahkan sebagai kegiatan bisnis yang dilakukan secara otomatis dan semiotomatis dengan menggunakan sistem informasi komputer. Istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Lou Gerstner, seorang CEO perusahaan IBM ini, sekarang merupakan bentuk kegiatan bisnis yang dilakukan dengan menggunakan teknologi Internet. E-business memungkinkan suatu perusahaan untuk berhubungan dengan sistem pemrosesan data internal dan eksternal mereka secara lebih efisien dan fleksibel. E-business juga banyak dipakai untuk berhubungan dengan suplier dan mitra bisnis perusahaan, serta memenuhi permintaan dan melayani kepuasan pelanggan secara lebih baik.
Dalam penggunaan sehari-hari, E-business tidak hanya menyangkut e-commerce saja. Dalam hal ini, e-commerce lebih merupakan sub bagian dari E-business, sementara E-business meliputi segala macam fungsi dan kegiatan bisnis menggunakan data elektronik, termasuk pemasaran Internet. Sebagai bagian dari E-business, e-commerce lebih berfokus pada kegiatan transaksi bisnis lewat www atau Internet. Dengan menggunakan sistem manajemen pengetahuan, e-commerce mempunyai goal untuk menambah revenu dari perusahaan.

Pelaku E-Business
– Organisasi, konsumen, perusahaan, supllier, pekerja, rekan bisnis
Alat/Media/S umber Daya yang Digunakan
– Teknologi informasi dan komunikasi
– Komputer, data yang telah terkomputerisasi
– internet
Kegiatan Sasaran
– Kegiatan bisnis
– Proses bisnis utama
– Pembelian, penjualan,pelayanan, transaksi
– Operasi bisnis utama
Tujuan
– Koordinasi, Komunikasi, dan Pengelolaan organisasi
– Transformasi proses bisnis
– Sharing informasi
Keuntungan
– Pendekatan yang aman, fleksibel, dan terintegrasi
– Memberikan nilai bisnis yang berbeda
– Efisien
– Peningkatan produktivitas dan keutungan
Contoh: Harian Kompas yang juga memiliki e-bisnis Kompas Online. Kompas menjalankan
proses bisnis utamanya berupa penyediaan berita dan distribusinya, tidak lagi hanya melalui
media cetak saja tetapi juga melalui internet. Keutungan yang dapat diberikan Kompas online
dapat diakses oleh seluruh penduduk di Indonesia (bahkan dunia), up to date, memangkas
biaya kertas, dapat diakses 24 jam, dll.

BPR untuk e-bisnis
diperkenalkan dan sifatnya menjelaskan.
prinsip dan taktik
redesign dari proses e-bisnis dengan meletakkan kerangka disebut loop kecepatan e-bisnis.
metodologi
untuk bagaimana proses rantai pasokan kolaboratif untuk e-bisnis dapat redesign.
TI integrasi option
untuk e-proses bisnis dan juga menguraikan tantangan implementasi tambahan yang datang dengan transformasi organisasi untuk e-bisnis

Brick & Mortar
Brick and Mortar adalah proses penjualan atau sistem bisnis dimana konsumen melakukan transaksi (memilih, membeli, dan mendapatkan barang) pada toko-toko atau dealer-dealer dengan mendatangi tempat secara langsung.
Click and Mortar adalah proses penjualan atau sistem bisnis dimana konsumen melakukan transaksi (memilih dan membeli barang) melalui internet kemudian melakukan pengambilan barang dengan mendatangi tempat (toko atau dealer).
Contoh:
Gramedia
Gramedia merupakan toko buku. Pada awalnya gramedia melakukan sistem penjualan dengan sistem offline. Namun seiring perkembangan zaman, maka Gramedia mengembangkan sistem penjualannya menggunakan sistem online. Pada awalnya sistem baru ini tidak terlalu signifikan terhadap tingkat penjualan, tapi seiring dengan waktu, maka sistem online ini dapat diterima dengan baik, dan telah terlihat signifikan terhadap penjualannya. Target skenario yang dipakai Gramedia adalah Blanket Targeting ( menggunakan sistem online 50% dan offline 50% ).

Bagaimana memanage e-process?

Supply chain model proses

rantai pasokan model proses
berevolusi ke bentuk struktural yang berbeda yang lebih menguntungkan untuk e-bisnis.

konektivitas Internet dimana mana
dari internet dan kebutuhan untuk mengatur proses supply chain yang berbeda untuk e-bisnis telah melahirkan sebuah perusahaan bentuk baru yang disebut portal.

bentuk pengorganisasian
di mana e-proses memiliki keutamaan atas proses fisik, dan
proses bisnis fisik rebundled dan didesain ulang di seluruh e-proses.

Setiap perusahaan dalam rantai pasokan
akan bertanggung jawab untuk melaksanakan proses yang melakukan yang terbaik sampai ke pelanggan.

portal di dunia e-bisnis
titik akses terkoordinasi dalam bentuk sebuah situs web yang menyediakan solusi dan layanan alat, pengetahuan dan informasi, atau perangkat lunak.

vertical portal
menargetkan industri tertentu (untuk industri kimia misalnya) sedangkan portal horisontal menyediakan jenis layanan tertentu untuk pasar yang lebih luas (misalnya, menyediakan peta online untuk konsumen, agen perjalanan, dan perusahaan penyewaan mobil).

Analisis Porter’s 5 Force dalam Bisnis indomaret

Tugas Kelompok Business Driven Technology 06 PBY

– Elvira Denisya (1401112172)

-Albert Dillon

Analisis Porter’s 5 Force dalam Bisnis indomaret

Dalam menganalisis kondisi bisnis suatu perusahaan, dapat digunakan analisis lima kekuatan bersaing (five competitive forces). Analisa Porter’s Five Forces memberikan gambaran yang powerful mengenai bagaimana tingkat persaingan dari suatu industri, baik itu dari sisi supply chain (supplier dan pelanggan) serta pasar (pemain baru dan substitusi). Keempat dari forces (dorongan) ini memberikan kontribusi terhadap competitive rivalry atau tingkat persaingan dalam industri. Analisis Porter untuk Indomaret ini diperlukan, mengingat banyak sekali IDF (Indomaret Franchise) yang telah bermunculan dimana-mana. Analisis lima kekuatan bersaing ini dapat menentukan profitabilitas dari Indomaret yang menjadi daya tarik bagi suatu industri, yang dengan mengetahui posisi suatu usaha berdasarkan  kekuatan-kekuatan  yang  telah  dimilikinya.

1. Persaingan Antar Perusahaan Sejenis

Persaingan dalam industri ini masih terus berkembang sampai saat ini dan persaingan  tersebut  cukup  ketat.  Hal  ini  terlihat  dengan  munculnya  minimarket waralaba dan non-waralaba mandiri baru yang merupakan kategori pengecer dan semakin  bertambahnya  pendirian  cabang-cabang  gerai  baru  oleh  perusahaan  ritel.

Tingkat pertumbuhan  industri  ritel,  setiap  tahunnya  pun  mengalami  kenaikan. Ketiadaan  diferensiasi  produk  dalam  industri  ritel,  dapat  digolongkan  produk  yang hampir sama. Maka pemilihan produk oleh pembeli didasarkan harga dan pelayanan yang diberikan. Dalam hal persaingan, diantara ritel-ritel modern, pesaing-pesaing langsung bagi Indomaret adalah Alfamart, Alfamidi, Circle-K, dll. Dari semua kompetitor dengan kategori peritel yang sama sangat memungkinkan berbeda yang dilihat dari kenyamanan saat berbelanja, keamanan, kemudahan, variasi produk yang semakin beragam, kualitas produk yang terus meningkat, harga produk yang menjadi lebih murah. Sehingga di sekitar lokasi perusahaan  ritel  terdapat  beberapa  bisnis  yang  menjadi  pesaing  sejenis.  Pesaing- pesaing yang berada disekitar Indomaret Binus misalnya, terdapat  Alfamart dan Seven Eleven, sedangkan supermarket dan hypermarket seperti Carrefour Permata Hijau adalah pesaing-pesaing yang sifatnya tidak langsung karena kategori ritelnya memang berbeda. Jadi dengan adanya para pesaing- pesaing  baru  dari  bisnis  ritel  yang  terus  bermunculan,  maka  persaingan  di  dalam industri ini cenderung cukup tinggi.

2. Kemungkinan Masuknya Pesaing Baru

Dalam bisnis ritel, kemungkinan masuknya pesaing baru dapat dikatakan tidak mudah. Karena hambatan masuk bagi pendatang baru cukup besar. Hal ini disebabkan karena  untuk masuk ke dalam industri bisnis ritel ini, pesaing baru memerlukan modal yang cukup besar dalam berinvestasi, kebutuhan akan diferensiasi produk yang banyak (beraneka ragam), dan memperoleh akses untuk masuk ke dalam saluran distribusi yang luas. Contoh dengan adanya pesaing baru yaitu dengan adanya Lawson yang berada disekitar kampus Syahdan.

3. Pengembangan Produk Substitusi

Pada Industrl ritel khususnya minimarket, ancaman produk substltusinya adalah para peritel tradisional. Hal ini dapat dengan jelas dikatakan bahwa, para peritel tradisional memiliki banyak produk beragam sebagai barang pengganti. Penjualan makanan, daging, sayuran serta produk-produk makanan lainnya, serta melakukan pembatasan penjualan terhadap produk-produk nonmakanan, seperti produk kesehatan, kecantikan dan produk-produk umum lainnya. Para peritel tradisional dapat menjadi produk substitusi karena peritel tradisional merupakan pasar tradisional yang menyediakan segala kebutuhan barang-barang yang dibutuhkan konsumen secara lebih lebih  lengkap  bila  dengan  Indomaret.  Indomaret  hanya  menjual  beberapa  produk seperti, kebutuhan sembako, makanan kemasan, nonmakanan dll.

4. Kekuatan Tawar-Menawar Pembeli / Konsumen

Kekuatan posisi tawar menawar pembeli lebih kuat dibandingkan perusahaan ritelnya. Ini dikarenakan perusahaan menjual produk kebutuhan sehari-hari dengan konsumennya  adalah  konsumen akhir.  Konsumen yang  membeli  produk  kebutuhan sehari-hari  pada  saat  ini  peka  terhadap  harga  dikarenakan  keadaan  perekonomian negara yang masih belum stabil. Jadi, perusahaan harus menetapkan harga yang tepat dan memberikan pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan. Kekuatan yang dimiliki pembeli mampu memaksa harga turun, peningkatan pelayan dan kualitas, dalam hal menetapkan harga pada Indomaret ini tidak secara langsung menentukan harga, harga sepenuhnya ditentukan oleh franchisor-nya Indomaret dan harga yang ditawarkan merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar yang sifatnya tetap (fix). Dan dalam hal ini, kekuatan tawar menawar pembeli ataupun konsumen bisa dikatakan sangat rendah.

5. Kekuatan Tawar-Menawar Penjual / Pemasok

Dalam hal ini, Indomaret memiliki posisi baik dalam menentukan produk yang akan dijualnya. Dilihat dari jumlah pemasok yang banyak, pembelian barang dengan skala yang besar, produk pemasok terdiferensiasi.

Porter Generic Strategi

Jika penentu utama dari profitabilitas perusahaan adalah daya tarik industri di mana ia beroperasi, merupakan penentu sekunder penting adalah posisinya dalam industri tersebut. Meskipun industri mungkin memiliki profitabilitas bawah rata-rata, sebuah perusahaan yang diposisikan secara optimal dapat menghasilkan keuntungan superior.
Sebuah perusahaan memposisikan dirinya dengan memanfaatkan kekuatan. Michael Porter telah menyatakan bahwa kekuatan sebuah perusahaan pada akhirnya jatuh ke salah satu dari dua judul: keunggulan biaya dan diferensiasi. Dengan menerapkan kekuatan baik dalam lingkup yang luas atau sempit, tiga generik hasil strategi: kepemimpinan biaya, diferensiasi, dan fokus.

1. Strategi Biaya Rendah (cost leadership) atau Kepemimpian biaya

Strategi Biaya Rendah (cost leadership) menekankan pada upaya memproduksi produk standar (sama dalam segala aspek) dengan biaya per unit yang sangat rendah. Produk ini (barang maupun jasa) biasanya ditujukan kepada konsumen yang relatif mudah terpengaruh oleh pergeseran harga (price sensitive) atau menggunakan harga sebagai faktor penentu keputusan.  Strategi jenis ini amat sesuai dengan kebutuhan pelanggan yang termasuk dalam kategori perilaku low-involvement, ketika konsumen tidak (terlalu) peduli terhadap perbedaan merek, (relatif) tidak membutuhkan pembedaan produk, atau jika terdapat sejumlah besar konsumen memiliki kekuatan tawar-menawar yang signifikan. Dalam kasus indomaret ini, harga sepenuhnya ditentukan oleh franchisor-nya Indomaret dan harga yang ditawarkan merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar yang sifatnya tetap (fix).

2. Strategi Pembedaan Produk (differentiation)

Strategi Pembedaan Produk (differentiation), mendorong perusahaan untuk sanggup menemukan keunikan tersendiri dalam pasar yang jadi sasarannya. Keunikan produk (barang atau jasa) yang dikedepankan ini memungkinkan suatu perusahaan untuk menarik minat sebesar-besarnya dari konsumen potensialnya. Cara pembedaan produk bervariasi dari pasar ke pasar, tetapi berkaitan dengan sifat dan atribut fisik suatu produk atau pengalaman kepuasan (secara nyata maupun psikologis) yang didapat oleh konsumen dari produk tersebut. Berbagai kemudahan pemeliharaan, features tambahan, fleksibilitas, kenyamanan dan berbagai hal lainnya yang sulit ditiru lawan merupakan sedikit contoh dari diferensiasi. Strategi jenis ini biasa ditujukan kepada para konsumen potensial yang relatif tidak mengutamakan harga dalam pengambilan keputusannya (price insensitive).

Dalam hal ini Indomaret menerapkan strategi-strategi yang membuatnya berbeda dari pesaingnya, yaitu:

– Harga Heboh: promosi mingguan yang memberikan harga sangat murah untuk produk-produk kebutuhan sehari-hari

-Super Hemat: Leaflet edisi dua mingguan yang mempromosikan produk-produk dengan hemat sebagai panduan bagi konsumen untuk belanja hemat

-Promosi Bulan Ini: promosi bulanan atas produk tertentu daam bentuk pembelian langsung atau potongan harga

Untuk jangka panjang, Indomaret juga menerapkan berbagai program yang berkaitan dengan loyalitas atau potongan harga

Resiko lainnya dari strategi ini adalah jika perbedaan atau keunikan yang ditawarkan produk tersebut ternyata tidak dihargai (dianggap biasa) oleh konsumen. Jika hal ini terjadi, maka pesaing yang menawarkan produk standar dengan strategi biaya rendah akan sangat mudah merebut pasar. Oleh karenanya, dalam strategi jenis ini, kekuatan departemen Penelitian dan Pengembangan sangatlah berperan.

Pada umumnya strategi biaya rendah dan pembedaan produk diterapkan perusahaan dalam rangka mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage) terhadap para pesaingnya pada semua pasar. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).

3. Strategi Fokus (focus)

Strategi fokus digunakan untuk membangun keunggulan bersaing dalam suatu segmen pasar yang lebih sempit. Strategi jenis ini ditujukan untuk melayani kebutuhan konsumen yang jumlahnya relatif kecil dan dalam pengambilan keputusannya untuk membeli relatif tidak dipengaruhi oleh harga. Dalam pelaksanaannya – terutama pada perusahaan skala menengah dan besar –, strategi fokus diintegrasikan dengan salah satu dari dua strategi generik lainnya: strategi biaya rendah atau strategi pembedaan karakteristik produk. Strategi ini biasa digunakan oleh pemasok “niche market” (segmen khusus/khas dalam suatu pasar tertentu; disebut pula sebagai ceruk pasar) untuk memenuhi kebutuhan suatu produk — barang dan jasa — khusus.

Syarat bagi penerapan strategi ini adalah adanya besaran pasar yang cukup (market size), terdapat potensi pertumbuhan yang baik, dan tidak terlalu diperhatikan oleh pesaing dalam rangka mencapai keberhasilannya (pesaing tidak tertarik untuk bergerak pada ceruk tersebut). Strategi ini akan menjadi lebih efektif jika konsumen membutuhkan suatu kekhasan tertentu yang tidak diminati oleh perusahaan pesaing. Biasanya perusahaan yang bergerak dengan strategi ini lebih berkonsentrasi pada suatu kelompok pasar tertentu (niche market), wilayah geografis tertentu, atau produk — barang atau jasa — tertentu dengan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen secara baik, excellent delivery. (Lihat David, 1998; Fournier dan Deighton, 1997; Pass dan Lowes, 1997; Porter, 1980 dan 1985).

Dalam hal ini, Indomaret melakukan strategi fokus dengan mengevaluasi terhadap keuntungan per produk barang dagangan yang ditawarkan pada pelanggan yang merupakan dasar untuk dapat menetapkan strategi pengelolaan ritel dengan lebih komprehensif. Melalui evaluasi keuntungan per produk, peritel dapat mengklasifikasikan mana produk-produk yang tergolong sebagai produk cepat laku (fast moving product) dan mana yang dikelompokkan sebagai produk yang kurang laku (slow moving product).

Indomaret terus melakukan evaluasi terhadap keuntungan per produk, sehingga berdasarkan data evaluasi tersebut, Indomaret bisa menerapkan space produk mana yang perlu dipasok lebih banyak dari segi kuantitas dan mana yang tidak, sehingga dengan adanya evaluasi seperti ini maka keuntungan dapat terus dikendalikan untuk mencapai maksimum profit.